Perhatikan Jadwal Penggantian Busi Sebelum Terlambat

  • Whatsapp

image_33678_Pada saat kita membeli kendaraan baik motor maupun mobil baru pastinya kita yakin bahwa kendaraan tersebut terpasang komponen yang masih baru dengan kualitas standar pabrik umumnya. Keyakinan tersebut membuat pengguna sangat berhati-hati dalam menjaga dan merawat kendaraanya tersebut.
Namun seiring berjalannya waktu kendaraan yang kita gunakan tersebut akan mengalami banyak perubahan yang terjadi pada komponen utama maupun komponen pendukung. Perubahan – perubahan tersebut meninmbulkan banyak gesekan yang berpotensi menyebabkan keausan dan kerusakan komponen yang berpotensi menggangu performa kendaraan tersebut. Diantara komponen – komponen tersebut adalan busi.
Pada awal – awal pemakaian tentu kita merasakan bahwa kendaraan yang kita gunakan memiliki daya respon yang baik, efisiensi penggunaan bahan bakar yang stabil, serta yang terpenting adalah mudah dalam start. Namun pada saat kumulasi penggunaan kendaraan dengan jarak tertentu keuntungan tersebut tidak dapat kita rasakan kembali. Mengapa hal itu bisa terjadi?
“Pada busi terdapat dua elektroda yang biasa disebut elektroda ground maupun elektroda pusat. Elektroda teresebut memiliki celah gap yang sudah disesuaikan oleh standar mesin yang digunakan. Namun pada kondisi pemakaian tertentu elektroda tersebut mengalami erosi atau kerusakan yang menjadikan gap tersebut menjadi lebih lebar. Contoh; gap standarnya 0,7 mm tapi setelah digunakan menjadi 1,0 mm,” kata Diko Oktaviano-Technical Support PT NGK Busi Indonesia.
Ia memaparkan, perluasan celah ini lah yang mengakibatkan deretan perubahan performa pada kendaraan kita sehingga kendaraan kita dirasakan tidak seperti baru kembali. Efek dari perubahan celah tersebut akan mengakibatkan rentetan penurunan performa akibat busi yang tidak dijaga kondisinya. Jika sudah seperti ini komponen pendukung busi lainnya akan merasakan hal yang sama, diantaranya adalah tutup busi, kabel pengapian, koil, bahkan sampai dengan batterai yang kita gunakan akan terjadi penurunan performa.
Kondisi ini menjadikan kebutuhan transfer energi listrik yang awalnya (contoh : 1 Volt) terjadi kenaikan (contoh : 2 Volt) yang mengakibatkan kinerja dari komponen pendukung lainnya harus kerja extra maksimal untuk mensuplai kebutuhan busi tersebut. Jika sudah seperti ini yang dibutuhkan adalah mengganti komponen tersebut secara menyeluruh maupun sebagian.
“Oleh karena itu sebelum hal itu terjadi maka ganti busi pada waktunya sangat dianjurkan untuk semua kendaraan, tidak perlu menunggu sampai kendaraan itu berhenti operasi (mogok) karena kalau sudah seperti itu biaya service komponen lain akan lebih mahal dibandingkan dengan biaya penggantian busi,”tutur Diko.

Pos terkait