Sharing Sesion Jelang Penghargaan IRSA 2017, Fatalitas Akibat Kecelakaan Menurun Signifikan

  • Whatsapp

image_31000_IRSA– Indonesia Road Safety Award (IRSA) 2017 merupakan ajang penghargaan bagi pemerintah kota dan kabupaten dimana pada tahun 2017 diikuti sebanyak 120 kota dan kabupaten dalam menerapkan  sistem tata kelola keselamatan jalan yang baik . Dari 120 peserta, terpilih 23 kota dan kabupaten yang menjadi finalis IRSA 2017 , menjelang penghargaan IRSA 2017, Adira Insurance mengegelar sharing session sebagai forum diskusi antar pemerintah kota dan kabupaten yang menjadi finalis IRSA 2017 dengan instansi terkait di Jakarta (25/10).
Berdasarkan data Kepolisian Republik Indonesia, fatalitas akibat kecelakaan lalu lintas pada tahun 2016 mencapai 25.869 jiwa, mengalami kenaikan dibandingkan tahun 2015 (24.336 jiwa) namun menurun cukup signifikan dibandingkan tahun 2014 (28.297 jiwa).
Indra Baruna, Direktur Utama Adira Insurance mengungkapkan, sharing session ini merupakan bagian dari perjalanan penyelenggaraan IRSA sejak dua tahun lalu. Tentunya kami sangat antusias dapat menyediakan forum untuk mempertemukan pemerintah kota dan kabupaten finalis dengan instansi terkait sehingga hasil dari forum ini dapat dijadikan referensi untuk menerapkan sistem tata kelola keselamatan jalan yang baik di wilayahnya.
Jika diukur dari posisi baseline pada tahun 2010, kinerja keselamatan jalan hingga tahun 2016 berdasarkan tolak ukur tingkat fatalitas per 100.000 penduduk serta tingkat fatalitas per 10.000 kendaraan menunjukkan tren perbaikan, walaupun tingkat fatalitas tersebut cenderung stabil dan bahkan sedikit meningkat dalam dua tahun terakhir.
Selain itu, berdasarkan data Kementerian Kesehatan, perubahan beban penyakit kecelakaan lalu lintas dari tahun 1990 hingga tahun 2015 telah berubah dari peringkat 5 meningkat menjadi peringkat 2 setelah penyakit stroke. Data dan fakta tersebut menunjukkan bahwa Keselamatan Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ) harus tetap menjadi prioritas utama pemerintah dan mendapatkan dukungan penuh dari seluruh lapisan masyarakat.
Salah satu faktor penyebab tingginya angka kecelakaan LLAJ adalah peningkatan pertumbuhan kendaraan pribadi terutama sepeda motor. Tingginya laju pertumbuhan kendaraan pribadi terutama di perkotaan seperti DKI Jakarta tidak dapat dicegah, kenaikannya dapat mencapai 12% per tahunnya. Sedangkan jenis kendaraan pribadi yang mengalami kecelakaan lalu lintas pada tahun 2016, berdasarkan data Korlantas Polri, didominasi oleh kendaraan roda dua yang mencapai angka 72%.
Jumlah sepeda motor yang mengalami kecelakaan lalu lintas pun mengalami peningkatan yang cukup signifikan pada rentang waktu 2010 – 2016 dimana jumlahnya meningkat lebih dari tiga kali lipat. Hal ini dapat disebabkan oleh pertumbuhan jumlah kepemilikan sepeda motor di Indonesia yang sangat pesat dalam 10 tahun terakhir dan juga masih kurang optimalnya upaya peningkatan keselamatan lalu lintas yang ditujukan khusus pengendara sepeda motor.
Dampak dari kecelakaan LLAJ ini berpengaruh terhadap perekonomian nasional. Tingginya kerugian ekonomi akibat dari kecelakaan lalu lintas berkontribusi menurunkan angka PDB sebesar 2,9 – 3,1% atau setara dengan kerugian ekonomi sebesar Rp. 205 – 220 Triliun. Selain itu, kerugian materi yang dialami oleh korban kecelakaan pada tahun 2014 mencapai lebih dari 250 Milyar.
Dari sisi kesejahteraan, 62% korban meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas mengalami penurunan kesejahteraan dan 20 % korban luka berat akibat kecelakaan lalu lintas mengalami penurunan kesejahteraan.
Penurunan kesejahteraan ini juga diakibatkan oleh dominasi usia produktif sebagai korban kecelakaan LLAJ. Data tren proporsi usia korban meninggal dunia pada periode 2010 – 2016 menunjukkan bahwa proporsi usia produktif (BPS:15-64 tahun) yang meninggal cenderung meningkat tiap tahunnya yaitu sekitar 80% dari total korban.
Dilihat dari sisi ekonomi, hal ini memberikan dampak kerugian yang cukup tinggi baik secara makro pada sistem ekonomi nasional maupun secara mikro di level perekonomian keluarga. Dengan meninggalnya anggota keluarga pada usia produktif yang kemungkinan besar adalah tulang punggung keluarga dalam mencari nafkah maka keluarga tersebut menjadi lebih rentan terhadap kemiskinan.
“Dengan adanya sharing session ini, menjadikan IRSA yang tidak hanya sekedar penghargaan melainkan mampu merangkul berbagai pihak untuk saling bersinergi mewujudkan zero accident di Indonesia,” Tutur Indra.

Pos terkait